hidup baik

berjuanglah untuk mencapai kesuksesan

hidup baik

menuju kesuksesan

L templa

hidup baik

berjuang menuju kesuksesan

Jumat, 09 Agustus 2019

Sejarah taratara satu

SEJARAH TARATARA SATU

  •     Asal Usul Taratara
      Taratara merupakan desa atau kampung, dalam bahasa Tombulu disebut wanua yang terletak di antara Gunung Lokon dan Bukit Rawingkolo (Wawona), dan juga diapit oleh Sungai Makalesung dan Sungai Meras di bagian Utara dan Sungai Ranowangko di bagian Timur dan Selatan. Letak ini membuat Desa Taratara berada pada posisi strategis dan aman dari bahaya atau bencana alam, seperti material vulkanik akibat letusan Gunung Lokon dan banjir dari Gunung Lokon dan dari Tomohon.
Hasil gambar untuk foto kelurahan persawahan taraNama Taratara berawal dari kata “taz-taz”, yaitu bunyi tumbuhan air, yang banyak tumbuh di rawa-rawa dan kolam-kolam di bagian Utara wilayah Taratara, sekitar Amian, Meras dan Paku, ketika ditarik atau diinjak. Karena mengalami banyak perubahan dialek oleh orang-orang dahulu, maka penyebutan taz-taz berubah menjadi “Tazataza”. Kemudian pada tahun 1800-an, ketika Belanda masuk di Taratara, maka penyebutan Tazataza berubah menjadi “Taratara” yang kita kenal sekarang1). Namun demikian, penggunaan nama Tazataza masih berlaku di kalangan orang-orang tua di Taratara, bahkan oleh masyarakat kampung tetangga seperti Woloan dan Kayawu.
Taratara didirikan sekitar tahun 1400-an atau abad ke-13 oleh orang-orang yang berasal dari “Walak Sarongsong” yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani pembuat garam dan penangkap ikan di pantai atau laut Tanahwangko. Penyebaran orang Sarongsong meluas sampai di Taratara karena diakibatkan karena wilayah Taratara sering dilalui mereka ketika menuju dan kembali dari Tanahwangko setelah selesai membuat garam dan menangkap ikan2). Jarak Sarongsong-Tanahwangko yang jauh sekitar ± 30 ditempuh dengan berjalan kaki, membutuhkan waktu yang berjam-jam dengan menyusuri bantaran sungai Ranowangko, sehingga mereka sering kelelahan bahkan ketika pulang waktunya sudah gelap dan malam ketika melewati Taratara. Saat malam tiba, mereka beristirahat dan tidur sampai keesokan harinya dengan berteduh di bawah pohon-pohon besar, atau di dalam gua-gua yang berada disekitar pinggiran sungai Ranowangko. Karena sering mengalami hal demikian, maka mereka mulai mendirikan rumah-rumah kecil dan darurat atau untuk sementara dapat ditempati.
Seiring dengan perjalanan waktu, mereka mulai tertarik dengan Taratara, karena tanahnya yang subur dan kaya akan hasil hutan. Bahkan dengan pertimbangan bahwa jarak ke Tanahwangko lebih dekat, maka mereka mulai menetap di Taratara dan tidak lagi pulang ke Sarongsong. Hal ini menjadi daya tarik mereka sehingga semakin banyak orang yang membuat rumah atau gonggulang dan menetap di Taratara, sehingga lama- kelamaan
terbentuklah satu kampung atau desa. Karena semua kebutuhan, baik makanan berupa ikan air tawar, hewan dan ternak, sayur-sayuran dan buah, pakaian, peralatan bahkan bahan untuk membangun rumah cukup dan tersedia di Taratara, maka mereka sepakat untuk tidak lagi bertani garam di pantai Tanahwangko, melainkan menetap di Taratara dengan bertani dan berburu hewan.
Dari waktu ke waktu, Taratara mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik jumlah penduduk maupun luas perkampungan dan lahan pertaniannya. Begitu pula dengan kehidupan masyarakat, khususnya budaya dan tradisi. Sehingga masyarakat mulai berpikir bahwa mereka membutuhkan pemimpin untuk mengatur dan memerintah mereka dalam menjalankan kehidupan sebagai satu komunitas. Oleh tua-tua kampung, melalui suatu musyawarah ditunjuklah orang yang dianggap mampu, biasanya yang berperawakan tinggi dan besar serta berani, yang disebut dengan ”Tona’as”. Biasanya Tona’as selain memerintah, juga memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menyelesaikan sengketa, menjadi panglima perang atau walian, memimpin ritual agama atau wailan atau rumarages, dan mengobati orang sakit.
Keputusan orang dari Walak Sarongsong untuk menetap dan bertani di Taratara melalui proses ritual keagamaan terjadi di masa Tona’as Sumarandak Lelepouan. Masyarakat yang belum mengenal Tuhan atau masih alifuru, dipimpin oleh Tona’as Sumarandak Lelepouan melakukan ritual sembayang dan pemujaan atau rumaghes untuk meminta tanda atau wenang kepada roh-roh leluhur mereka yang mereka anggap mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka (animisme). Ritual rumaghes dipimpin oleh orang-orang tua yang disebut Rumaraghes. Para Rumaraghes memilih tempat yang baik yaitu dataran dan dekat mata air. Dalam pelaksanaan ritual rumaghes datang seekor burung Manguni, terbang mengitari atau rimuang tempat tersebut sambil memberikan bunyi atau kicau sebagai tanda atau wenang sebanyak 9 (sembilan) kali atau Manguni makasiouw. Setelah mendapatkan tanda dan menganggap doa mereka dikabulkan, maka mereka mendirikan monumen dari batu sebagai peringatan akan pendirian Kampung Taratara. Monumen tersebut dinamakan “Watu Tumani”. Sedangkan tempat mereka melakukan ritual rumaghes dan mendapat tanda, mereka namakan Tinalinga’an. Tempat Tinalinga’an dimana Watu Tumani ini didirikan, sebagai perkampungan atau wanua pertama sekarang ini disekitar gereja GMIM Imanuel sekarang3). Adanya perkampungan ini dibuktikan dengan menumpuknya kuburan kuno atau waruga, disekitar gereja GMIM Imanuel Taratara kesemua arah sampai radius ± 200 meter. Biasanya orang yang meninggal dikuburkan oleh keluarga di dekat rumah dan dibangun tanda dari batu yang berbentuk rumah kecil yang disebut “Waruga”    
  •    Taratara di Zaman Tona’as



Para Tona’as yang diketahui pernah memimpin masyarakat di Taratara, adalah sebagai berikut:
1. Tona’as Tulong
2. Tona’as Kalangi
3. Tona’as Tambingon
4. Tona’as Sumarandak Lelepouan
5. Tona’as Sembel
6. Tona’as Lontoh
Di masa Tona’as Tulong, masyarakat Taratara diperintahkan untuk membuka lahan pertanian. Kemudian dilanjutkan oleh Tona’as Kalangi dengan menambah luas lahan pertanian. Masa Tona’as Tambingon terjadi banyak peperangan antar masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat diperintahkan memasang warangka untuk membentengi kampung dari serangan musuh. Warangka tersebut dikenal sebagai Si’zang um Wanua. Masa Tona’as Sumarandak Lelepouan dan Tona’as Sembel membangkitkan pengembangan budaya memahat dan mengukir batu untuk dijadikan waruga. Sedangkan Tona’as Lontoh merintis penetapan batas-batas wilayah kampung Utara dengan Gunung Lokon, Timur dengan Woloan, Selatan dengan Tincep dan Barat dengan Ranotongkor4).
  •     Taratara di Zaman Kolonial

Hasil gambar untuk gambar kolonial belanda
Add caption

Ketika pecah Perang Tondano, yaitu perang terbesar rakyat Minahasa melawan penjajah Belanda dan puncaknya pada tahun 1807-1809, Tanahwangko menjadi pintu masuk tentara Belanda di bagian Barat. Akibat perang dengan Belanda banyak rakyat negeri Taratara mengungsi di gonggulang, sebutan untuk tempat-tempat yang khusus dibangun untuk persembunyian orang yang mengungsi, seperti goa, bunker dan rumah darurat di hutan. Kebanyakan rakyat yang mengungsi adalah laki-laki dan perempuan baik anak-anak maupun dewasa, yang masih kuat untuk lari. Yang tertinggal adalah orang-orang tua dan yang orang menderita sakit termasuk seorang laki-laki bernama Wilar. Tentara Belanda mengalami kesulitan ketika menguasai negeri Taratara, karena disekitar kampung dipasang jebakan dan ranjau berupa warangka oleh pasukan rakyat negeri Taratara. Sehingga tentara Belanda memanfaatkan Wilar sebagai perisai dan penunjuk jalan yang aman dari warangka 5). Selanjutnya, karena jasanya terhadap tentara Belanda, Wilar diangkat sebagai pemimpin pribumi, namun bukan sebutan Tona’as lagi melainkan Ukung Tua atau Hukum Tua di negeri Taratara.
  •     PEMERINTAHAN DESA TARATARA


Desa Taratara di Zaman Hukum Tua
Hukum Tua yang memerintah Taratara, dipilih dari masyarakat dan oleh masyarakat itu sendiri berdasarkan suara terbanyak. Hukum Tua yang pernah memerintah Desa Taratara sejak tahun 1807, adalah sebagai berikut:
1. Wilar (1807-1809)
2. Roring (1809-1815)
3. Kandou (1815-1840)
4. Wati Roring (1840-1855)
5. Daniel Wohon (1855-1867)
6. Salmon Sorey (1867-1870)
7. Barnabas Poluan Roring (1870-1884)
8. Rumajar Kereh (1884-1903)
9. Samuel Marinoya Pongoh (1903-1906)
10. Daud Israel Kereh (1906-1916)
11. Welem Wenas Pongoh (1916-1933)
12. Alpius Wenas Pongoh (1933-1946)
13. Dien Elisa Eduard Lonta (1946-1953)
14. Pieter Tangkuman (1953-1958)
15. Sembel Geret Suot (1959-1960)
16. Pieter Tangkuman (1960-1978)
Desa Taratara di tahun 1890, dijadikan sebagai Onderdistrict (Distrik Bawahan Tombariri), yang wilayah hukumnya meliputi Desa Woloan, Taratara, Kayawu dan Ranotongkor. Mereka yang pernah menjadi pemimpin Onderdistrict Taratara, yaitu:
1. Andries (1890)
2. Manoppo (1890-1893)
3. Ticoalu (1893-1896)
4. Frederik Andries (1896-1900)
5. Pelengkahu (1900-1903)
6. Sumaiku (1903-1906)
7. Karolus Waworuntu (1906-1908)
Pada tahun 1908, kedudukan Onderdistrict Taratara dikembalikan ke District Tombariri. Tahun 1955, dimasa pemerintahan Hukum Tua Pieter Tangkuman, dan oleh perjuangan beliau, Desa Taratara menjadi bagian dari District Tomohon6).
Sejak tahun 1903, ketika masa jabatan Hukum Tua Rumajar Kereh berakhir, maka untuk mengisi kekosongan Hukum Tua, oleh pemerintahan District (Kecamatan) ditunjuklah orang yang dianggap layak oleh pemerintahan atasan sebagai Penjabat Hukum Tua.
Mereka yang pernah mejabat Penjabat Hukum Tua Taratara, yaitu:
1. Wajong (1903), mengisi kekosongan ketika jabatan Hukum Tua Rumajar Kereh berakhir.
2. Istefanus Wenas Palandi (1953), mengisi kekosongan ketika Hukum Tua Dien Elisa Eduard Lonta berhenti karena lanjut usia.
3. Jan Antonius Tambotto (1959), mengisi kekosongan ketika Hukum Tua Sembel Geret Suot berhenti akibat pergolakan Permesta7).
Pemekaran Desa Taratara
Jumlah penduduk dan luas wilayah Desa Taratara terus bertambah, sehingga Tanggal 11 Pebruari 1978, Desa Taratara dimekarkan menjadi 2 (dua) desa yaitu Taratara Satu dan Taratara Dua berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Nomor 230 Tahun 1978 tertanggal 11 Februari 1978. Desa Taratara Satu dipimpin oleh Hukum Tua Pieter Tangkuman (1978), sedangkan Desa Taratara Dua dipimpin oleh Hukum Tua Hanoch Zet Pandey (1978-2002).
  •     PEMERINTAHAN TARATARA SATU 


Pemerintahan Desa Taratara Satu
Setelah Desa Taratara dimekarkan tahun 1978, Desa Taratara Satu dipimpin Hukum Tua Pieter Tangkuman. Namun karena sakit dan lanjut usia, Hukum Tua Pieter Tangkuman berhenti. Selanjutnya Wakil Hukum Tua waktu itu, Lefrand Palit menjadi Penjabat Hukum Tua. Tahun 1979, Camat Tomohon waktu itu P. S. Kaunang, BA mengangkat Thomas Ramoh sebagai Penjabat Hukum Tua sampai dengan tahun 19808).
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, sebutan Hukum Tua diganti dengan Kepala Desa. Pada tahun 1980 Desa Taratara Satu mengadakan pemilihan Kepala Desa dengan hasil Romualdus Turambi terpilih sebagai Kepala Desa periode 1980-1985. Ketika masa tugas Kepala Desa Romualdus Turambi berakhir tahun 1985, diadakan lagi pemilihan Kepala Desa dengan hasil Romualdus Turambi terpilih kedua kalinya menjadi Kepala Desa periode 1985-1993. Ketika masa tugas periode kedua Kepala Desa Romualdus Turambi berakhir tahun 1993, Leo Tinangon, Sekretaris Desa waktu itu diangkat oleh Camat Tomohon sebagai Penjabat Kepala Desa sampai tahun 1995. Tahun 1995, diadakan lagi pemilihan Kepala Desa dan menempatkan Israel Lonta terpilih menjadi Kepala Desa periode 1995-2003, menggantikan Romualdus Turambi. Tahun 2002, diadakan lagi pemilihan Kepala Desa dan untuk kedua kalinya Israel Lonta terpilih menjadi Kepala Desa periode 2003-2008.
Awal tahun 2000-an di era reformasi dan otonomi daerah, Kecamatan Tomohon dimekarkan menjadi 3 (tiga) kecamatan, yaitu Kecamatan Tomohon Utara, Tomohon Tengah dan Tomohon Selatan. Pemekaran ini sebagai persiapan Tomohon menjadi Daerah Otonom. Hasilnya Pemerintah Pusat menetapkan Tomohon sebagai Daerah Kota Otonom berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai bagian dari Kota Tomohon, Desa Taratara Satu masuk dalam wilayah kerja Kecamatan Tomohon Tengah dengan tetap dipimpin oleh Kepala Desa Israel Lonta. Desa Taratara Satu dibagi menjadi 10 (sepuluh) Dusun yang dipimpin oleh Kepala dan Pembantu Kepala Dusun.
Tahun 2000 di Desa Taratara Satu terbentuk Badan Perwakilan Desa (BPD) yang dipilih oleh masyarakat dari unsur Kalangan Adat 2 (dua) orang, Kalangan Organisasi Sosial dan Politik 7 (tujuh) orang, Kalangan Agama 2 (dua) orang dan Kalangan Profesi 2 (dua) orang. Adapun BPD Desa Taratara Satu dipimpin oleh Petrus R. Wuwung sebagai Ketua.
Pemerintahan Kelurahan Taratara Satu
Pada tanggal 26 Januari 2006, Pemerintah Kota Tomohon mengubah status Desa-Desa di Kota Tomohon menjadi Kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tomohon Nomor 1 Tahun 2006 tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan, maka Taratara Satu menjadi Kelurahan. Demikian pula, Kepala Desa Israel Lonta dilantik menjadi Lurah Taratara Satu. Sedangkan sebutan Dusun diganti dengan Lingkungan dan dipimpin oleh Kepala dan Wakil Kepala Lingkungan. Sesuai ketentuan, maka BPD dibubarkan dan diganti dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) yang juga dipilih oleh masyarakat.
Berdasarkan Peraturan Derah Kota Tomohon Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pembentukan Kelurahan Woloan Satu Utara Kecamatan Tomohon Barat, Kelurahan Taratara Kecamatan Tomohon Barat, Kelurahan Taratara Tiga Kecamatan Tomohon Barat, Kelurahan Tumatangtang Satu Kecamatan Tomohon Selatan tanggal 7 September 2009, Kelurahan Taratara Satu dimekarkan oleh Pemerintah Kota Tomohon menjadi 2 (dua) kelurahan yaitu Kelurahan Taratara Satu sebagai kelurahan induk dan Kelurahan Taratara sebagai kelurahan pemekaran. Wilayah Kelurahan Taratara Satu terdiri atas 5 (lima) lingkungan dari Lingkungan I sampai Lingkungan V.
Pada 21 Oktober 2009, Walikota Tomohon Jefferson S. M. Rumajar, SE menunjuk Rompis M. Osak, SP, pelaksana pada Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kota Tomohon sebagai Lurah Kelurahan Taratara Satu, menggantikan Israel Lonta, sampai dengan sekarang.
Seiring dengan pemekaran Kelurahan, maka pada 1 Januari 2010, Lingkungan dimekarkan pula dari 5 (lima) menjadi 8 (delapan) Lingkungan.
Setelah pemekaran, maka terjadi kekosongan pada jabatan tertentu baik pengurus maupun anggota LPM, sehingga dilaksanakan pembaruan dengan pemilihan pengurus LPM dengan Ketua Antonius Supit.
STATISTIK KEPENDUDUKAN PER 31 DESEMBER 2011
Jumlah Kepala Keluarga : 475
Jumlah Jiwa : 1.791
Jenis Kelamin :
Laki-laki : 946
Perempuan : 845
Agama :
Islam : 5
Kristen : 713
Katolik : 1.073
Hindu : 0
Budha : 0
Konghucu : 0
Status Perkawinan :
Kawin : 856
Belum Kawin : 815
Cerai Hidup : 18
Cerai Mati : 102
Pendidikan :
Belum/Tidak Sekolah : 132
SD : 689
SLTP/Sederajat : 469
SLTA/Sederajat : 419
D I/D II/D III/Akademi : 22
S1 : 57
S2 : 3
S3 : 0

Minggu, 04 Agustus 2019

Sejarah singkat seminari kakaskasen

itulis Kembali dari Buku “Memoria Nostra: Ad Maiorem Dei Gloriam”.Dan Dipersembahkan khusus untuk Para Alumni Seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen) 

AWALNYA


           Awal kisahnya, Pastor Croonen adalah penjaga dan Pembina asrama H.I.S (Sekolah Pribumi yang berbahasa belanda) yang didirikan sejak 1 juni 1922. Dari an(Dtara murid-murid H.I.S ini beliau menemukan seorang yang pada hematnya dapat dibimbing kea rah imamat. Namun calon tersebut meninggal dunia karena jatuh dari pohon semasa liburnya. Peristiwa ini tidak membuat Pastor Croonen berputus asa. Dorongan dan desakan dari pihak Roma untuk mendirikan seminari-seminari membuat Pastor Croonen berusaha memperbincangkannya terus dengan yang mulia Prefek Apostolik Mgr. W. Panis. Hasilnya kepada Pastor Croonen-lah yang mulia Mgr. W. Panis mempercayakan usaha untuk memulaikan seminari dan serentak mengangkat beliau menjadi direktur seminari pertama. Segera sesudah pengangkatan itu mulailah Pastor Croonen mencari murid-murid seminari yang pertama. Dengan amat teliti murid-murid tersebut dipilihnya. Akhirnya, Gedung seminari pertama diberkati pada tanggal 16 Januari 1928 di Woloan (Kota Tomohon) dengan dihadiri oleh para pastor dan bruder.

SEMINARI PERTAMA

            Gedung seminari yang pertama ialah gedung Kweekschool yang pada waktu itu sudah menjadi Normaatschool (Sekolah Pendidikan Guru). Gedung tersebut sebenarnya sudah tidak layak lagi dipakai, namun tidak ada tempat lain. tingkatan kelas seminari direncanakan untuk mulai dengan Probatorium (tingkat persiapan) dan dilanjutkan dengan kelas Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Mengingat kekurangan tenaga pengajar, maka penerimaan murid hanya dilaksanakan setiap jangka waktu dua tahun. Pada bulan agustus 1929, mulailah seminari dengan murid-muridnya yang pertama. Karena tingkat pengetahuan para murid ini dianggap cukup maka mereka langsung dapat duduk di tingkat Sexta. Dan sejak waktu itu pelajaran di seminari dapat berlangsung. Dalam bulan Desember 1933, didirikanlah akademi Albertina yang merupakan salah satu cara peningkatan ilmu pengetahuan para seminaris. Tahun 1934-1935 adalah merupakan tahun untuk tingkat Rhetorica yang pertama. Dengan adanya tingkat Rhetorica ini sebagai tingkat terakhir pendidikan di seminari menengah, muncullah persoalan yang baru :”Bagaimana nasib mereka kemudian? Dimanakah mereka harus melanjutkan studi filsafatnya?” Persoalan ini akhirnya terjawab dengan penyewaan rumah keluarga Boseke untuk waktu satu tahun. Di rumah ini tahun filsafat untuk para Rhetorica yang sudah tamat mulai dan rektornya yang pertama adalah Pastor C. De Bruyn, MSC.

LAHIRNYA SEMINARI KAKASKASEN

            Bertambahnya siswa-siswa ternyata menjadi kendala bagi pihak seminari sebab kompleks yang ada di Woloan sudah tidak dapat lagi menampung mereka semua. Untung dapat dibeli tanah kompleks radio pemerintah di Kakaskasen yang dijual karena stasiunnya akan dipindahkan ke tempat yang lain. pembangunan fisik mulai dilaksanakan pada 1 januari 1936 oleh Br. Boers c.s dibantu oleh sukarelawan mapalus umat katolik Woloan, Tomohon, Kakaskasen dan desa-desa sekitar. Gedung tersebut diberkati oleh Mgr. W. Panis pada tanggal 4 november 1936. Dalam upacara pemberkatan gedung seminari, hadir hampir semua tenaga Misi wilayah Prefektur Apostolik Manado, Residen Manado bersama anggota pimpinan pemerintah yang lain. gedung baru itu pada mulanya dipergunakan untuk tahun filsafat dan tingkat Rhetorica. Tingkat-tingkat yang lain masih tinggal di Woloan.
            Pembangunan dilanjutkan lagi dan akhirnya selesai pada bulan agustus 1937. Dengan demikian maka tahun sekolah 1937-1938 dapat dimulai dengan lancer. Kompleks seminari ini terdiri dari seminari menengah yang bernama Seminari Theresianum dan Seminari Agung bagian filasafat yang bernama Seminari Xaverianum. Sementara itu perang mulai berkecamuk di Eropa yang menyebabkan putusnya hubungan antara para Misionaris dengan netherland. Pada tanggal 10 januari 1942, tentara Jepang mendarat melalui laut dan udara. Melihat hal ini maka direktur seminari Pater C. De Bruyn memerintahkan supaya para murid segera menyingkir dan pulang ke kampong untuk menghindari serangan tentara buas ini. Dalam waktu yang singkat seminari Kakaskasen diduduki. Para pastornya ditawan. Gedung seminari dijadikan sekolah pertanian, dan kemudian menjadi tempat penyimpanan alat-alat perang. Ketika sekutu mengetahui hal itu, mulailah kompleks seminari di-bom. Akibatnya begitu parah bahkan kapel seminari hancur berkeping-keping. Kompleks seminari tingal reruntuhan puing berserakan. Yang Nampak masih kokoh, walaupun tinggal sebagian adalah altar. Tidak hanya itu saja, harta benda seminari juga dijarah dan gedung seminari sempat dipakai sebagai tempat penampungan warga dan keluarga Belanda yang dinyatakan sebagai tawanan perang. Hancurnya gedung seminari Kakaskasen menyebabkan seminari kembali ke Woloan. Demikian pada tanggal 1 januari 1946 dalam gedung Normaalschool dibukalah sekolah Tarcisius dengan Pastor Hendriks sebagai direkturnya. Murid yang diterima berjumlah 19 orang dengan derajat pengetahuan kelas 5 sekolah dasar.

SEMANGAT BARU

            Tahun 1948-1949 seminari menengah mulai melangkah maju. Waktu itu Kelas Sexta dimulai dengan 15 murid. Pada waktu itu juga kompleks seminari Kakaskasen yang hancur mulai diperbaiki dan dibangun lagi. Dengan giat dan cepat Br. Boers melaksanakan tugas pembangunannya, sehingga sesudah liburan yang panjang tahun 1949, yaitu pada bulan September, siswa-siswa dapat langsung ke seminari Kakaskasen. Pada waktu itu kelas Quinta berjumlah 15 orang, kelas Sexta 10 orang dan kelas Probatorium 25 orang. Salah satu cirri khas seminari yaitu adanya aturan dan disiplin sebagai calon imam. Sebab tanpa aturan dan disiplin maka hampalah pendidikan di seminari. Hal ini ditekankan lagi oleh Duta Vatikank, Mgr. G. de Jonghe D’Ardoye pada waktu kunjungannya tanggal 21 september 1951. Pada kunjungannya ke seminari, duta Vatikan member perhatian khusus kepada para calon imam dan beliau menegaskan bahwa hidup para calon imam harus ditandai oleh Ibadah, Pengetahuan dan Disiplin.
            Tahun 1953-1954, Rhetorica pertama muncul. Mereka telah menyelesaikan tahun-tahun pelajarannya di seminari dan akan melanjutkan studinya ke seminari tinggi. Dari tahun ke tahun jumlah di tingkat atas terus bertambah dan langsung ke seminari tinggi Pineleng.

TAHUN PERGOLAKAN PERMESTA 1958-1961

            Sesudah beberapa tahun seminari menengah berjalan dengan baik, muncul perang saudara atau apa yang disebut “Pergolakan Permesta”. Perang ini tentu membawa pengaruh bagi pendidikan di seminari. Di bawah dentuman mortir dan gerebek senjata serta sambil masuk keluar lobang perlindungan, kehidupan pendidikan seminari nampaknya berjalan terus. Kakaskasen juga menjadi tempat penyingkiran para frater dari Pineleng tatkala seminari Pineleng mendapat sasaran tembakan. Kenangan akan masa pergolakan ini masih tetap ada. Hal ini dapat kita saksikan sendiri kalau kita menjenguk ke bagian belakang kompleks seminari, dimana kita akan menemukan sebuah bukit kecil yang rimbun dengan pohon den dipuncak bukit ini yang terkenal dengan nama ‘Kimentur” nampaklah sebuah kapela St. Perawan Maria. Kapela ini telah didirikan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada ibu Maria atas perlindungannya pada seminari selama masa pergolakan Permesta.

PERKEMBANGAN SEMINARI PASCA PERMESTA

            Dengan usainya Permesta, mulai dirasakan bahwa gedung seminari terlalu kecil dan sempit. Bahkan karena tidak ada tempat lagi, maka siswa-siswa kelas Probatorium terpaksa menumpang di Frateran Tomohon. Untuk perluasan gedung seminari maka bruder-bruder dengan tukang-tukangnya mulai beraksi lagi di seminari Kakaskasen. Bantuan sukarelawan dari umat sekitar bahkan dari para frater dari seminari tinggi Pineleng tidak ketinggalan. Pembangunan ini berjalan selama 5 tahun dan menghasilkan suatu bangunan yang megah dan siap pakai. Tahun 1960, seminari mulai mengikuti ujian Negara untuk tingkat SMP dan hasilnya 100%  memuaskan karena rata-rata setiap tahunnya menjadi juara dari semua sekolah. Ujian Negara untuk tingkat SMA baru mulai sekitar tahun 1965. Semuanya dengan hasil yang memuaskan. Maksud dari ujian-ujian Negara tersebut bukan sekedar memperlihatkan prestasi pendidikan seminari melainkan juga antara lain untuk membantu siswa-siswa yang tidak meneruskan pelajarannya di seminari tetapi dapat melanjutkan di sekolah-sekolah yang lain.
            Pada permulaan tahun pelajaran 1978, staf seminari sudah menganggap bahwa tingkat persiapan (Probatorium) boleh ditiadakan. Karena itu murid-murid yang lulus test diterima langsung duduk di kelas Sexta. Ditingkat ini diberikan pelajaran khusus agar mereka dapat mampu mengikuti pelajaran-pelajaran lanjut di seminari. Jumlah tahun pelajaran di seminari menengah menjadi enam yaitu: Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Tiga tahun yang pertama itu sama dengan tingkat SLTP sedangkan tiga tahun yang terakhir itu sama dengan tingkat SLTA dengan tambahan khusus sebagai calon imam.

 HAWA BARU PENDIDIKAN

            Pada bulan juli 1981 diadakan penerimaan murid baru seminari dan rupanya inilah angkatan terakhir yang berkesempatan untuk mengikuti pendidikan SMP di seminari. Sejak tahun 1982 pihak seminari tidak menerima lagi calon-calon lulusan sekolah dasar. Calon-calon lulusan SMP tidak diizinkan langsung duduk di kelas 1 SMP. Mereka dipersiapkan dahulu selama satu tahun di Kelas Persiapan Bawah (KPB). Dengan demikian tingkat yang ada di seminari dari enam tahun menjadi empat tahun yakni Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Setelah melewati berbagai tantangan akhirnya seminari kakaskasen dapat menikmati angin segar. Pendidikan seminari yang pada dasarnya juga mengikuti kurikulum pemerintah, menghasilkan mutu pendidikan yang tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah sederajat. Hal ini dapat dilihat dengan prestasi yang dicapai oleh para siswa seminari yang mengikuti ujian Negara. Selama beberapa tahun, ranking para seminaris tetap berada pada posisi puncak.
            Adapun pada tahun 1997, pihak seminari memutuskan untuk mengubah sistem belajarnya lagi, yakni Kelas Persiapan Bawah (KPB) diganti Kelas Persiapan Atas (KPA). Maksudnya adalah kelas yang paling rendah atau kelas Quarta (Kelas 0) kini tingkatnya menjadi kelas satu SMU dan sesudah tamat SMU para siswa diberikan lagi program khusus selama satu tahun untuk mempersiapkan diri buat seminari Agung. Oleh karena perubahan sistem itu maka pada saat ujia Negara tahun 2000 kelas Poesis yang kini sederajat dengan kelas 3 SMU menghadap ujian Negara bersama dengan kelas Rhetorica (angkatan terakhir KPB). Ketika menginjak tahun yubileum seminari yang ke-75, berbagai program dan kegiatan dilaksanakan oleh pihak seminari antara lain karena mengingat usia bangunan-bangunan seminari terutama tembok Kapela yang sudah tua dan rapuh, maka sekitar bulan maret tahun 2003 diadakan renovasi. Selanjutnya, pada tahun 2009, diperoleh bantuan dari pemerintah kota Tomohon untuk pembangunan dua ruang kelas di bagian barat yang sekarang menjadi ruang kelas Rhetorica dan ruang guru.
            Tahun 2011 ini sebagian besar gedung-gedung di seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen sudah berusia sekitar 63 tahun. Beberapa bagian bahkan sudah keropos dimakan zaman, misalnya ruang tata usaha, ruang rekreasi dan kamar-kamar pastores, ruang-ruang kelas, ruang tidur, dan ruang studi. maklum bagian dalamnya masih berbahan bamboo. Namun rahmat benih-benih panggilan masih terus bertumbuh terbukti dengan banyaknya pelamar yang mendaftar setiap tahunnya. Semoga panggilan menjadi imam tetap lestari adanya. Benih yang sudah ditanam pasti akan tetap tumbuh berkembang dan berbuah. Seminari dari umat, bersama umat dan untuk umat.
            Demikianlah sejarah ringkas perjalanan seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Dan Sejarah akan tetap berlanjut. “Tempora Mutantur Et Nos Mutamur In Illis”, waktu itu terus berubah dan kita akan seiring berubah di dalamnya.

jenjang pendidikan menjadi imam katolik

 jenjang pendidikan menjadi imam katolik

                         Pemimpin umat Katolik mempunyai ragam panggilan sesuai dengan daerah tertentu. Panggilan yang lebih umum di seluruh dunia adalah Pater atau Pastor. Sedangkan di Indonesia lebih akrab dipanggil dengan panggilan Romo dari bahasa Jawa yang berarti Bapak. Panggilan lain adalah imam. Ada sebagian yang memanggil Pendeta. Akan tetapi untuk istilah pendeta sudah lebih menukik untuk sebutan pemimpin umat Kristen Protestan.

Bagi kaum muda yang tertarik untuk menjadi Imam atau Pastor cara atau prosedur yang harus dilalui kurang lebih sebagai berikut:
Bagi yang lulusan SMP sudah merasa tertarik maka bisa mulai dengan tingkat SMA yaitu masuk Seminari Menengah dan dilanjutkan ke Seminari Tinggi.
Bagi yang lulusan SMA bukan dari Seminari Menengah maka ada perbedaan, biasanya masuk ke jenjang postulat dulu 1 tahun:
  1. Postulat: lamanya 1 tahun (tahap ini berlaku bagi calon yang tidak mengalami pembinaan di Seminari Menengah).
  2. Novisiat: lamanya 1 tahun.
  3. Pendidikan Filsafat dan Teologi (S1): lamanya 4 tahun.
  4. Tahun Pastoral: ada yang menerapkan 1 tahun ada yang menerapkan 2 tahun.
  5. Pendidikan Filsafat dan Teologi (S2): lamanya 2 tahun.
  6. Tahbisan Imamat.
Semua proses menjadi Imam untuk yang lulusan SMP lalu melanjutkan ke Seminari Menengah maka waktu yang harus ditempuh antara 11-12 tahun baru bisa menjadi Pastor.
Untuk yang lulusan SMA/SMK maka semua proses waktu yang dilalui antara 8-9 tahun baru bisa ditahbiskan menjadi Imam.
Bagi yang tertarik menjadi Imam atau Pastor maka prosedur pertama yang harus dilalui adalah segera melaporkan diri atau konsultasi dengan Pastor Paroki setempat untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut.
Anda bisa memilih berbagai Ordo atau Konggregasi yang ada di Indonesia, antara lain SJ, OFM, CM, O.Carm, SMM, CMM,non konggregasi yaitu Praja (Diocesan), dan masih banyak lagi.

Jumat, 02 Agustus 2019

gereja

sejarah gereja katolik

sebuah agama besar di muka bumi. Agama KristenKatolik, atau Katolik saja sesuai dengan maksud pemaparan dalam tulisan ini, adalah suatu agamawahyu. Itu sama halnya dengan dua agama wahyu lainnya, yaitu Yahudi dan Islam.
     Sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan penulis, maka dalam pemaparan ini hanya diulas seputar sejarah agama Katolik saja.  Dan dalam pemaparan ini pun sebatas pemaparan dalam bentuk dan tujuan pengetahuan sekilas tentang sejarah agama Katolik itu sendiri, tidak menyentuh hal-hal iman umat Katolik dan jauh dari tujuan penyebaran agama.
        Artinya, pemaparan ini sebatas yang menyangkut sejarah semata, untuk memenuhi kanal Singkap Sejarah dalam Netralnews.com yang mengetengahkan segala macam hal dari perspektif sejarah, tanpa embel-embel lainnya. Karena, hal itu bukan wewenang penulis. Lalu, dari mana sejarah awal mulanya agama Katolik  atau Kristen Katolikitu.
        Istilah Katolik berasal dari bahasa Yunani, bahasa yang sering dijadikan rujukan dalam belajar agamadan teologi Kristen Katolik, yaitu Katholikos. Artinya, adalah ajaran yang bersifat umum dan tersebar di seluruh dunia atau dapat diterima di seluruh dunia .
Yang pertama memakai istilah Katolik adalah Ignatius dari Antiokia. Kata Katolik  lebih lanjut dianggap sebagai nama ajaran gereja yang benar.
      Agama Katolik tumbuh ketika Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina pada awal abad keempat  Masehi dimana gereja mendapat pengakuan resmi dari kaisar Romawi Konstantin Agung (380 M) dalam bentuk Katolik Ortodoks yang berkedudukan monopoli dan terus berkembang di luar kerajaan Romawi.
           Sejak abad pertama sampai abad keempat agamaKristen Katolik ini telah menyebar di sekitar laut tengah. Dan dalam abad keempat sampai abad ketiga belas menyebar di Eropa, abad ketiga belas sampai abad kedelapan belas memasuki benua Amerika, sebagian  Afrika dan Asia.
Dalam abad ke-19, agama Kristen Katolik sudah berkembang ke seluruh dunia. Penganut agamaKatolik itu pun membludak.
      Masyarakat animism dan politeisme, dan lain-lain yang dianut oleh masyarakat setempat, ketika agama Katolik disebarkan, meninggalkan animismenya dan memeluk agama Katolik. Pada abad kedua puluh gerakan zending internasional telah menjelajahi seluruh dunia.
Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran , hidup , sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih.
       Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, sang juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus dan membebaskan seluruh umat manusia dari belenggu dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab yang di dalamnya ada Injjil.
   Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia . Murid Yesus sebanyak 12 orang.
   Agama Katolik termasuk Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Yesus dari Nazaret ke surga.
    Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab suci Perjanjian Baru atau Injil, umat Katolik juga  Kristen meyakini bahwa Yesus adalah Mesias  yang diuraikan dalam kitab Perjanjian Lama (atau Kitab suci Yahudi).
Secara historis, Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di Palestina sekitar tahun 4 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes.
        Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan, Maria, yang dikandung oleh Roh Kudus. Pada umur 27 tahun ia mulai mengajarkan ajarannya di Galilea dan kemudian ajarannya menyebar  di kalangan orang-orang Palestina dan daerah-daerah di sekitarnya.
  Seperti diketahui, agama wahyu, Yahudi, Nasrani (Kristen Katolik dan Kristen Protestan)  Yesus menyampaikan ajarannya hanya berjalan sekitar empat tahun.
Pada tanggal 4 April 30 M, dalam umur 30-31 tahun ia wafat dikayu salib.
       Setelah wafat dan bangkit sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan umat Kristiani, para rasulnya meneruskan ajaran-ajaran Yesus, dan terbentuklah agama Katolik, yang diperkuat dengan terbangunnya gereja di atas makam santo Petrus, yang merupakan salah satu murid kesayangan Yesus Kristus, Isah Almasih.
      Agama Katolik pun terus berkembang sampai hari ini, dengan pengikutnya miliaran yang tersebar di seluruh dunia. Pusatnya adalah Vatikan, dengan kepala utamanya Paus.
       Dan dalam agama Katolik tokoh utama dan sentral adalah Yesus Kristus, Isa Almasih yang diyakini dan diimani oleh umat Kristen Katolik dan KristenProtestan sebagai Sang Juru Selamat.