itulis Kembali dari Buku “Memoria Nostra: Ad Maiorem Dei Gloriam”.Dan Dipersembahkan khusus untuk Para Alumni Seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen)
AWALNYA
![](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-7yQUclwV7M0hZPVrWURV3SPBbNH5cZrwplkaz62TUhcn9I_D9YCqLLClcHouazT6A9dWkhf_BniZu4cSx55DMh1qEN-P8UxtF7z9ytPfJIUSjkdoQvKg5Akiq_QgsqdR5yiiDBSBVora/s320/download+%25284%2529.jpg)
Awal kisahnya, Pastor Croonen adalah penjaga dan Pembina asrama H.I.S (Sekolah Pribumi yang berbahasa belanda) yang didirikan sejak 1 juni 1922. Dari an(Dtara murid-murid H.I.S ini beliau menemukan seorang yang pada hematnya dapat dibimbing kea rah imamat. Namun calon tersebut meninggal dunia karena jatuh dari pohon semasa liburnya. Peristiwa ini tidak membuat Pastor Croonen berputus asa. Dorongan dan desakan dari pihak Roma untuk mendirikan seminari-seminari membuat Pastor Croonen berusaha memperbincangkannya terus dengan yang mulia Prefek Apostolik Mgr. W. Panis. Hasilnya kepada Pastor Croonen-lah yang mulia Mgr. W. Panis mempercayakan usaha untuk memulaikan seminari dan serentak mengangkat beliau menjadi direktur seminari pertama. Segera sesudah pengangkatan itu mulailah Pastor Croonen mencari murid-murid seminari yang pertama. Dengan amat teliti murid-murid tersebut dipilihnya. Akhirnya, Gedung seminari pertama diberkati pada tanggal 16 Januari 1928 di Woloan (Kota Tomohon) dengan dihadiri oleh para pastor dan bruder.
SEMINARI PERTAMA
Gedung seminari yang pertama ialah gedung Kweekschool yang pada waktu itu sudah menjadi Normaatschool (Sekolah Pendidikan Guru). Gedung tersebut sebenarnya sudah tidak layak lagi dipakai, namun tidak ada tempat lain. tingkatan kelas seminari direncanakan untuk mulai dengan Probatorium (tingkat persiapan) dan dilanjutkan dengan kelas Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Mengingat kekurangan tenaga pengajar, maka penerimaan murid hanya dilaksanakan setiap jangka waktu dua tahun. Pada bulan agustus 1929, mulailah seminari dengan murid-muridnya yang pertama. Karena tingkat pengetahuan para murid ini dianggap cukup maka mereka langsung dapat duduk di tingkat Sexta. Dan sejak waktu itu pelajaran di seminari dapat berlangsung. Dalam bulan Desember 1933, didirikanlah akademi Albertina yang merupakan salah satu cara peningkatan ilmu pengetahuan para seminaris. Tahun 1934-1935 adalah merupakan tahun untuk tingkat Rhetorica yang pertama. Dengan adanya tingkat Rhetorica ini sebagai tingkat terakhir pendidikan di seminari menengah, muncullah persoalan yang baru :”Bagaimana nasib mereka kemudian? Dimanakah mereka harus melanjutkan studi filsafatnya?” Persoalan ini akhirnya terjawab dengan penyewaan rumah keluarga Boseke untuk waktu satu tahun. Di rumah ini tahun filsafat untuk para Rhetorica yang sudah tamat mulai dan rektornya yang pertama adalah Pastor C. De Bruyn, MSC.
LAHIRNYA SEMINARI KAKASKASEN
Bertambahnya siswa-siswa ternyata menjadi kendala bagi pihak seminari sebab kompleks yang ada di Woloan sudah tidak dapat lagi menampung mereka semua. Untung dapat dibeli tanah kompleks radio pemerintah di Kakaskasen yang dijual karena stasiunnya akan dipindahkan ke tempat yang lain. pembangunan fisik mulai dilaksanakan pada 1 januari 1936 oleh Br. Boers c.s dibantu oleh sukarelawan mapalus umat katolik Woloan, Tomohon, Kakaskasen dan desa-desa sekitar. Gedung tersebut diberkati oleh Mgr. W. Panis pada tanggal 4 november 1936. Dalam upacara pemberkatan gedung seminari, hadir hampir semua tenaga Misi wilayah Prefektur Apostolik Manado, Residen Manado bersama anggota pimpinan pemerintah yang lain. gedung baru itu pada mulanya dipergunakan untuk tahun filsafat dan tingkat Rhetorica. Tingkat-tingkat yang lain masih tinggal di Woloan.
Pembangunan dilanjutkan lagi dan akhirnya selesai pada bulan agustus 1937. Dengan demikian maka tahun sekolah 1937-1938 dapat dimulai dengan lancer. Kompleks seminari ini terdiri dari seminari menengah yang bernama Seminari Theresianum dan Seminari Agung bagian filasafat yang bernama Seminari Xaverianum. Sementara itu perang mulai berkecamuk di Eropa yang menyebabkan putusnya hubungan antara para Misionaris dengan netherland. Pada tanggal 10 januari 1942, tentara Jepang mendarat melalui laut dan udara. Melihat hal ini maka direktur seminari Pater C. De Bruyn memerintahkan supaya para murid segera menyingkir dan pulang ke kampong untuk menghindari serangan tentara buas ini. Dalam waktu yang singkat seminari Kakaskasen diduduki. Para pastornya ditawan. Gedung seminari dijadikan sekolah pertanian, dan kemudian menjadi tempat penyimpanan alat-alat perang. Ketika sekutu mengetahui hal itu, mulailah kompleks seminari di-bom. Akibatnya begitu parah bahkan kapel seminari hancur berkeping-keping. Kompleks seminari tingal reruntuhan puing berserakan. Yang Nampak masih kokoh, walaupun tinggal sebagian adalah altar. Tidak hanya itu saja, harta benda seminari juga dijarah dan gedung seminari sempat dipakai sebagai tempat penampungan warga dan keluarga Belanda yang dinyatakan sebagai tawanan perang. Hancurnya gedung seminari Kakaskasen menyebabkan seminari kembali ke Woloan. Demikian pada tanggal 1 januari 1946 dalam gedung Normaalschool dibukalah sekolah Tarcisius dengan Pastor Hendriks sebagai direkturnya. Murid yang diterima berjumlah 19 orang dengan derajat pengetahuan kelas 5 sekolah dasar.
SEMANGAT BARU
Tahun 1948-1949 seminari menengah mulai melangkah maju. Waktu itu Kelas Sexta dimulai dengan 15 murid. Pada waktu itu juga kompleks seminari Kakaskasen yang hancur mulai diperbaiki dan dibangun lagi. Dengan giat dan cepat Br. Boers melaksanakan tugas pembangunannya, sehingga sesudah liburan yang panjang tahun 1949, yaitu pada bulan September, siswa-siswa dapat langsung ke seminari Kakaskasen. Pada waktu itu kelas Quinta berjumlah 15 orang, kelas Sexta 10 orang dan kelas Probatorium 25 orang. Salah satu cirri khas seminari yaitu adanya aturan dan disiplin sebagai calon imam. Sebab tanpa aturan dan disiplin maka hampalah pendidikan di seminari. Hal ini ditekankan lagi oleh Duta Vatikank, Mgr. G. de Jonghe D’Ardoye pada waktu kunjungannya tanggal 21 september 1951. Pada kunjungannya ke seminari, duta Vatikan member perhatian khusus kepada para calon imam dan beliau menegaskan bahwa hidup para calon imam harus ditandai oleh Ibadah, Pengetahuan dan Disiplin.
Tahun 1953-1954, Rhetorica pertama muncul. Mereka telah menyelesaikan tahun-tahun pelajarannya di seminari dan akan melanjutkan studinya ke seminari tinggi. Dari tahun ke tahun jumlah di tingkat atas terus bertambah dan langsung ke seminari tinggi Pineleng.
TAHUN PERGOLAKAN PERMESTA 1958-1961
Sesudah beberapa tahun seminari menengah berjalan dengan baik, muncul perang saudara atau apa yang disebut “Pergolakan Permesta”. Perang ini tentu membawa pengaruh bagi pendidikan di seminari. Di bawah dentuman mortir dan gerebek senjata serta sambil masuk keluar lobang perlindungan, kehidupan pendidikan seminari nampaknya berjalan terus. Kakaskasen juga menjadi tempat penyingkiran para frater dari Pineleng tatkala seminari Pineleng mendapat sasaran tembakan. Kenangan akan masa pergolakan ini masih tetap ada. Hal ini dapat kita saksikan sendiri kalau kita menjenguk ke bagian belakang kompleks seminari, dimana kita akan menemukan sebuah bukit kecil yang rimbun dengan pohon den dipuncak bukit ini yang terkenal dengan nama ‘Kimentur” nampaklah sebuah kapela St. Perawan Maria. Kapela ini telah didirikan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada ibu Maria atas perlindungannya pada seminari selama masa pergolakan Permesta.
PERKEMBANGAN SEMINARI PASCA PERMESTA
Dengan usainya Permesta, mulai dirasakan bahwa gedung seminari terlalu kecil dan sempit. Bahkan karena tidak ada tempat lagi, maka siswa-siswa kelas Probatorium terpaksa menumpang di Frateran Tomohon. Untuk perluasan gedung seminari maka bruder-bruder dengan tukang-tukangnya mulai beraksi lagi di seminari Kakaskasen. Bantuan sukarelawan dari umat sekitar bahkan dari para frater dari seminari tinggi Pineleng tidak ketinggalan. Pembangunan ini berjalan selama 5 tahun dan menghasilkan suatu bangunan yang megah dan siap pakai. Tahun 1960, seminari mulai mengikuti ujian Negara untuk tingkat SMP dan hasilnya 100% memuaskan karena rata-rata setiap tahunnya menjadi juara dari semua sekolah. Ujian Negara untuk tingkat SMA baru mulai sekitar tahun 1965. Semuanya dengan hasil yang memuaskan. Maksud dari ujian-ujian Negara tersebut bukan sekedar memperlihatkan prestasi pendidikan seminari melainkan juga antara lain untuk membantu siswa-siswa yang tidak meneruskan pelajarannya di seminari tetapi dapat melanjutkan di sekolah-sekolah yang lain.
Pada permulaan tahun pelajaran 1978, staf seminari sudah menganggap bahwa tingkat persiapan (Probatorium) boleh ditiadakan. Karena itu murid-murid yang lulus test diterima langsung duduk di kelas Sexta. Ditingkat ini diberikan pelajaran khusus agar mereka dapat mampu mengikuti pelajaran-pelajaran lanjut di seminari. Jumlah tahun pelajaran di seminari menengah menjadi enam yaitu: Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Tiga tahun yang pertama itu sama dengan tingkat SLTP sedangkan tiga tahun yang terakhir itu sama dengan tingkat SLTA dengan tambahan khusus sebagai calon imam.
HAWA BARU PENDIDIKAN
Pada bulan juli 1981 diadakan penerimaan murid baru seminari dan rupanya inilah angkatan terakhir yang berkesempatan untuk mengikuti pendidikan SMP di seminari. Sejak tahun 1982 pihak seminari tidak menerima lagi calon-calon lulusan sekolah dasar. Calon-calon lulusan SMP tidak diizinkan langsung duduk di kelas 1 SMP. Mereka dipersiapkan dahulu selama satu tahun di Kelas Persiapan Bawah (KPB). Dengan demikian tingkat yang ada di seminari dari enam tahun menjadi empat tahun yakni Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Setelah melewati berbagai tantangan akhirnya seminari kakaskasen dapat menikmati angin segar. Pendidikan seminari yang pada dasarnya juga mengikuti kurikulum pemerintah, menghasilkan mutu pendidikan yang tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah sederajat. Hal ini dapat dilihat dengan prestasi yang dicapai oleh para siswa seminari yang mengikuti ujian Negara. Selama beberapa tahun, ranking para seminaris tetap berada pada posisi puncak.
Adapun pada tahun 1997, pihak seminari memutuskan untuk mengubah sistem belajarnya lagi, yakni Kelas Persiapan Bawah (KPB) diganti Kelas Persiapan Atas (KPA). Maksudnya adalah kelas yang paling rendah atau kelas Quarta (Kelas 0) kini tingkatnya menjadi kelas satu SMU dan sesudah tamat SMU para siswa diberikan lagi program khusus selama satu tahun untuk mempersiapkan diri buat seminari Agung. Oleh karena perubahan sistem itu maka pada saat ujia Negara tahun 2000 kelas Poesis yang kini sederajat dengan kelas 3 SMU menghadap ujian Negara bersama dengan kelas Rhetorica (angkatan terakhir KPB). Ketika menginjak tahun yubileum seminari yang ke-75, berbagai program dan kegiatan dilaksanakan oleh pihak seminari antara lain karena mengingat usia bangunan-bangunan seminari terutama tembok Kapela yang sudah tua dan rapuh, maka sekitar bulan maret tahun 2003 diadakan renovasi. Selanjutnya, pada tahun 2009, diperoleh bantuan dari pemerintah kota Tomohon untuk pembangunan dua ruang kelas di bagian barat yang sekarang menjadi ruang kelas Rhetorica dan ruang guru.
Tahun 2011 ini sebagian besar gedung-gedung di seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen sudah berusia sekitar 63 tahun. Beberapa bagian bahkan sudah keropos dimakan zaman, misalnya ruang tata usaha, ruang rekreasi dan kamar-kamar pastores, ruang-ruang kelas, ruang tidur, dan ruang studi. maklum bagian dalamnya masih berbahan bamboo. Namun rahmat benih-benih panggilan masih terus bertumbuh terbukti dengan banyaknya pelamar yang mendaftar setiap tahunnya. Semoga panggilan menjadi imam tetap lestari adanya. Benih yang sudah ditanam pasti akan tetap tumbuh berkembang dan berbuah. Seminari dari umat, bersama umat dan untuk umat.
Demikianlah sejarah ringkas perjalanan seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Dan Sejarah akan tetap berlanjut. “Tempora Mutantur Et Nos Mutamur In Illis”, waktu itu terus berubah dan kita akan seiring berubah di dalamnya.
AWALNYA
![](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-7yQUclwV7M0hZPVrWURV3SPBbNH5cZrwplkaz62TUhcn9I_D9YCqLLClcHouazT6A9dWkhf_BniZu4cSx55DMh1qEN-P8UxtF7z9ytPfJIUSjkdoQvKg5Akiq_QgsqdR5yiiDBSBVora/s320/download+%25284%2529.jpg)
Awal kisahnya, Pastor Croonen adalah penjaga dan Pembina asrama H.I.S (Sekolah Pribumi yang berbahasa belanda) yang didirikan sejak 1 juni 1922. Dari an(Dtara murid-murid H.I.S ini beliau menemukan seorang yang pada hematnya dapat dibimbing kea rah imamat. Namun calon tersebut meninggal dunia karena jatuh dari pohon semasa liburnya. Peristiwa ini tidak membuat Pastor Croonen berputus asa. Dorongan dan desakan dari pihak Roma untuk mendirikan seminari-seminari membuat Pastor Croonen berusaha memperbincangkannya terus dengan yang mulia Prefek Apostolik Mgr. W. Panis. Hasilnya kepada Pastor Croonen-lah yang mulia Mgr. W. Panis mempercayakan usaha untuk memulaikan seminari dan serentak mengangkat beliau menjadi direktur seminari pertama. Segera sesudah pengangkatan itu mulailah Pastor Croonen mencari murid-murid seminari yang pertama. Dengan amat teliti murid-murid tersebut dipilihnya. Akhirnya, Gedung seminari pertama diberkati pada tanggal 16 Januari 1928 di Woloan (Kota Tomohon) dengan dihadiri oleh para pastor dan bruder.
SEMINARI PERTAMA
Gedung seminari yang pertama ialah gedung Kweekschool yang pada waktu itu sudah menjadi Normaatschool (Sekolah Pendidikan Guru). Gedung tersebut sebenarnya sudah tidak layak lagi dipakai, namun tidak ada tempat lain. tingkatan kelas seminari direncanakan untuk mulai dengan Probatorium (tingkat persiapan) dan dilanjutkan dengan kelas Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Mengingat kekurangan tenaga pengajar, maka penerimaan murid hanya dilaksanakan setiap jangka waktu dua tahun. Pada bulan agustus 1929, mulailah seminari dengan murid-muridnya yang pertama. Karena tingkat pengetahuan para murid ini dianggap cukup maka mereka langsung dapat duduk di tingkat Sexta. Dan sejak waktu itu pelajaran di seminari dapat berlangsung. Dalam bulan Desember 1933, didirikanlah akademi Albertina yang merupakan salah satu cara peningkatan ilmu pengetahuan para seminaris. Tahun 1934-1935 adalah merupakan tahun untuk tingkat Rhetorica yang pertama. Dengan adanya tingkat Rhetorica ini sebagai tingkat terakhir pendidikan di seminari menengah, muncullah persoalan yang baru :”Bagaimana nasib mereka kemudian? Dimanakah mereka harus melanjutkan studi filsafatnya?” Persoalan ini akhirnya terjawab dengan penyewaan rumah keluarga Boseke untuk waktu satu tahun. Di rumah ini tahun filsafat untuk para Rhetorica yang sudah tamat mulai dan rektornya yang pertama adalah Pastor C. De Bruyn, MSC.
LAHIRNYA SEMINARI KAKASKASEN
Bertambahnya siswa-siswa ternyata menjadi kendala bagi pihak seminari sebab kompleks yang ada di Woloan sudah tidak dapat lagi menampung mereka semua. Untung dapat dibeli tanah kompleks radio pemerintah di Kakaskasen yang dijual karena stasiunnya akan dipindahkan ke tempat yang lain. pembangunan fisik mulai dilaksanakan pada 1 januari 1936 oleh Br. Boers c.s dibantu oleh sukarelawan mapalus umat katolik Woloan, Tomohon, Kakaskasen dan desa-desa sekitar. Gedung tersebut diberkati oleh Mgr. W. Panis pada tanggal 4 november 1936. Dalam upacara pemberkatan gedung seminari, hadir hampir semua tenaga Misi wilayah Prefektur Apostolik Manado, Residen Manado bersama anggota pimpinan pemerintah yang lain. gedung baru itu pada mulanya dipergunakan untuk tahun filsafat dan tingkat Rhetorica. Tingkat-tingkat yang lain masih tinggal di Woloan.
Pembangunan dilanjutkan lagi dan akhirnya selesai pada bulan agustus 1937. Dengan demikian maka tahun sekolah 1937-1938 dapat dimulai dengan lancer. Kompleks seminari ini terdiri dari seminari menengah yang bernama Seminari Theresianum dan Seminari Agung bagian filasafat yang bernama Seminari Xaverianum. Sementara itu perang mulai berkecamuk di Eropa yang menyebabkan putusnya hubungan antara para Misionaris dengan netherland. Pada tanggal 10 januari 1942, tentara Jepang mendarat melalui laut dan udara. Melihat hal ini maka direktur seminari Pater C. De Bruyn memerintahkan supaya para murid segera menyingkir dan pulang ke kampong untuk menghindari serangan tentara buas ini. Dalam waktu yang singkat seminari Kakaskasen diduduki. Para pastornya ditawan. Gedung seminari dijadikan sekolah pertanian, dan kemudian menjadi tempat penyimpanan alat-alat perang. Ketika sekutu mengetahui hal itu, mulailah kompleks seminari di-bom. Akibatnya begitu parah bahkan kapel seminari hancur berkeping-keping. Kompleks seminari tingal reruntuhan puing berserakan. Yang Nampak masih kokoh, walaupun tinggal sebagian adalah altar. Tidak hanya itu saja, harta benda seminari juga dijarah dan gedung seminari sempat dipakai sebagai tempat penampungan warga dan keluarga Belanda yang dinyatakan sebagai tawanan perang. Hancurnya gedung seminari Kakaskasen menyebabkan seminari kembali ke Woloan. Demikian pada tanggal 1 januari 1946 dalam gedung Normaalschool dibukalah sekolah Tarcisius dengan Pastor Hendriks sebagai direkturnya. Murid yang diterima berjumlah 19 orang dengan derajat pengetahuan kelas 5 sekolah dasar.
SEMANGAT BARU
Tahun 1948-1949 seminari menengah mulai melangkah maju. Waktu itu Kelas Sexta dimulai dengan 15 murid. Pada waktu itu juga kompleks seminari Kakaskasen yang hancur mulai diperbaiki dan dibangun lagi. Dengan giat dan cepat Br. Boers melaksanakan tugas pembangunannya, sehingga sesudah liburan yang panjang tahun 1949, yaitu pada bulan September, siswa-siswa dapat langsung ke seminari Kakaskasen. Pada waktu itu kelas Quinta berjumlah 15 orang, kelas Sexta 10 orang dan kelas Probatorium 25 orang. Salah satu cirri khas seminari yaitu adanya aturan dan disiplin sebagai calon imam. Sebab tanpa aturan dan disiplin maka hampalah pendidikan di seminari. Hal ini ditekankan lagi oleh Duta Vatikank, Mgr. G. de Jonghe D’Ardoye pada waktu kunjungannya tanggal 21 september 1951. Pada kunjungannya ke seminari, duta Vatikan member perhatian khusus kepada para calon imam dan beliau menegaskan bahwa hidup para calon imam harus ditandai oleh Ibadah, Pengetahuan dan Disiplin.
Tahun 1953-1954, Rhetorica pertama muncul. Mereka telah menyelesaikan tahun-tahun pelajarannya di seminari dan akan melanjutkan studinya ke seminari tinggi. Dari tahun ke tahun jumlah di tingkat atas terus bertambah dan langsung ke seminari tinggi Pineleng.
TAHUN PERGOLAKAN PERMESTA 1958-1961
Sesudah beberapa tahun seminari menengah berjalan dengan baik, muncul perang saudara atau apa yang disebut “Pergolakan Permesta”. Perang ini tentu membawa pengaruh bagi pendidikan di seminari. Di bawah dentuman mortir dan gerebek senjata serta sambil masuk keluar lobang perlindungan, kehidupan pendidikan seminari nampaknya berjalan terus. Kakaskasen juga menjadi tempat penyingkiran para frater dari Pineleng tatkala seminari Pineleng mendapat sasaran tembakan. Kenangan akan masa pergolakan ini masih tetap ada. Hal ini dapat kita saksikan sendiri kalau kita menjenguk ke bagian belakang kompleks seminari, dimana kita akan menemukan sebuah bukit kecil yang rimbun dengan pohon den dipuncak bukit ini yang terkenal dengan nama ‘Kimentur” nampaklah sebuah kapela St. Perawan Maria. Kapela ini telah didirikan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada ibu Maria atas perlindungannya pada seminari selama masa pergolakan Permesta.
PERKEMBANGAN SEMINARI PASCA PERMESTA
Dengan usainya Permesta, mulai dirasakan bahwa gedung seminari terlalu kecil dan sempit. Bahkan karena tidak ada tempat lagi, maka siswa-siswa kelas Probatorium terpaksa menumpang di Frateran Tomohon. Untuk perluasan gedung seminari maka bruder-bruder dengan tukang-tukangnya mulai beraksi lagi di seminari Kakaskasen. Bantuan sukarelawan dari umat sekitar bahkan dari para frater dari seminari tinggi Pineleng tidak ketinggalan. Pembangunan ini berjalan selama 5 tahun dan menghasilkan suatu bangunan yang megah dan siap pakai. Tahun 1960, seminari mulai mengikuti ujian Negara untuk tingkat SMP dan hasilnya 100% memuaskan karena rata-rata setiap tahunnya menjadi juara dari semua sekolah. Ujian Negara untuk tingkat SMA baru mulai sekitar tahun 1965. Semuanya dengan hasil yang memuaskan. Maksud dari ujian-ujian Negara tersebut bukan sekedar memperlihatkan prestasi pendidikan seminari melainkan juga antara lain untuk membantu siswa-siswa yang tidak meneruskan pelajarannya di seminari tetapi dapat melanjutkan di sekolah-sekolah yang lain.
Pada permulaan tahun pelajaran 1978, staf seminari sudah menganggap bahwa tingkat persiapan (Probatorium) boleh ditiadakan. Karena itu murid-murid yang lulus test diterima langsung duduk di kelas Sexta. Ditingkat ini diberikan pelajaran khusus agar mereka dapat mampu mengikuti pelajaran-pelajaran lanjut di seminari. Jumlah tahun pelajaran di seminari menengah menjadi enam yaitu: Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Tiga tahun yang pertama itu sama dengan tingkat SLTP sedangkan tiga tahun yang terakhir itu sama dengan tingkat SLTA dengan tambahan khusus sebagai calon imam.
HAWA BARU PENDIDIKAN
Pada bulan juli 1981 diadakan penerimaan murid baru seminari dan rupanya inilah angkatan terakhir yang berkesempatan untuk mengikuti pendidikan SMP di seminari. Sejak tahun 1982 pihak seminari tidak menerima lagi calon-calon lulusan sekolah dasar. Calon-calon lulusan SMP tidak diizinkan langsung duduk di kelas 1 SMP. Mereka dipersiapkan dahulu selama satu tahun di Kelas Persiapan Bawah (KPB). Dengan demikian tingkat yang ada di seminari dari enam tahun menjadi empat tahun yakni Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Setelah melewati berbagai tantangan akhirnya seminari kakaskasen dapat menikmati angin segar. Pendidikan seminari yang pada dasarnya juga mengikuti kurikulum pemerintah, menghasilkan mutu pendidikan yang tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah sederajat. Hal ini dapat dilihat dengan prestasi yang dicapai oleh para siswa seminari yang mengikuti ujian Negara. Selama beberapa tahun, ranking para seminaris tetap berada pada posisi puncak.
Adapun pada tahun 1997, pihak seminari memutuskan untuk mengubah sistem belajarnya lagi, yakni Kelas Persiapan Bawah (KPB) diganti Kelas Persiapan Atas (KPA). Maksudnya adalah kelas yang paling rendah atau kelas Quarta (Kelas 0) kini tingkatnya menjadi kelas satu SMU dan sesudah tamat SMU para siswa diberikan lagi program khusus selama satu tahun untuk mempersiapkan diri buat seminari Agung. Oleh karena perubahan sistem itu maka pada saat ujia Negara tahun 2000 kelas Poesis yang kini sederajat dengan kelas 3 SMU menghadap ujian Negara bersama dengan kelas Rhetorica (angkatan terakhir KPB). Ketika menginjak tahun yubileum seminari yang ke-75, berbagai program dan kegiatan dilaksanakan oleh pihak seminari antara lain karena mengingat usia bangunan-bangunan seminari terutama tembok Kapela yang sudah tua dan rapuh, maka sekitar bulan maret tahun 2003 diadakan renovasi. Selanjutnya, pada tahun 2009, diperoleh bantuan dari pemerintah kota Tomohon untuk pembangunan dua ruang kelas di bagian barat yang sekarang menjadi ruang kelas Rhetorica dan ruang guru.
Tahun 2011 ini sebagian besar gedung-gedung di seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen sudah berusia sekitar 63 tahun. Beberapa bagian bahkan sudah keropos dimakan zaman, misalnya ruang tata usaha, ruang rekreasi dan kamar-kamar pastores, ruang-ruang kelas, ruang tidur, dan ruang studi. maklum bagian dalamnya masih berbahan bamboo. Namun rahmat benih-benih panggilan masih terus bertumbuh terbukti dengan banyaknya pelamar yang mendaftar setiap tahunnya. Semoga panggilan menjadi imam tetap lestari adanya. Benih yang sudah ditanam pasti akan tetap tumbuh berkembang dan berbuah. Seminari dari umat, bersama umat dan untuk umat.
Demikianlah sejarah ringkas perjalanan seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Dan Sejarah akan tetap berlanjut. “Tempora Mutantur Et Nos Mutamur In Illis”, waktu itu terus berubah dan kita akan seiring berubah di dalamnya.
mantap......
BalasHapus